PERDARAHAN POST PARTUM










Ramli Randan
SOP No Dokumen 173/SOP/GRC/III/2019
No Revisi 0
Tanggal Terbit 04 Maret 2019
Halaman 1/2
Klinik Pratama Rawat Jalan
Gracia
1. Pengertian

Perdarahan post partum (PPP) adalah perdarahan yang masif (lebih dari 500 mL) yang berasal dari tempat implantasi plasenta, robekan pada jalan lahir, dan jaringan sekitarnya dan merupakan salah satu penyebab kematian ibu disamping perdarahan karena hamil ektopik dan abortus.

Kode ICD X untuk perdarahan post partum adalah O72.1.

2. Tujuan

Sebagai acuan penerapan langkah-langkah untuk menegakkan diagnosis dan penatalaksanaan perdarahan post partum.

3. Kebijakan
  • Keputusan Kepala Klinik Gracia Nomor 98/SK/GRC/I/2023 tentang
    Kebijakan Pelayanan Klinis
4. Referensi

Keputusan Menteri Kesehatan RI No. HK.02.02/MENKES/514/2015 Tentang Panduan Praktis Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama

5. Alat dan Bahan
6. Prosedur
  1. Petugas melakukan anamnesis dan menggalinya
    1. Keluhan:
      • Perdarahan setelah melahirkan
      • Lemah
      • Limbung
      • Berkeringat dingin
      • Menggigil
      •  Pucat
    2. Faktor Resiko:
      • Prenatal
        • Perdarahan sebelum persalinan
        • Solusio plasenta
        • Plasenta previa
        • Kehamilan ganda
        • Preeklampsia
        • Khorioamnionitis
        • Hidramnion
        • IUFD
        • Anemia (Hb< 5,8)
        • Multiparitas
        • Mioma dalam kehamilan
        • Gangguan faktor pembekuan dan
        • Riwayat perdarahan sebelumnya serta obesitas
      • Saat persalinan pervaginam
        • Kala tiga yang memanjang
        • Episiotomi
        • Distosia
        • Laserasi jaringan lunak
        • Induksi atau augmentasi persalinan dengan oksitosin
        • Persalinan dengan bantuan alat (forseps atau vakum)
        • Sisa plasenta, dan bayi besar (>4000 gram)
      • Setelah section cesarean (SC)
        • Insisi uterus klasik
        • Amnionitis
        • Preeklampsia
        • Persalinan abnormal
        • Anestesia umum
        • Partus preterm dan postterm
  2. Petugas melakukan pemeriksaan tanda vital dan fisik, untuk menemukan tanda-tanda berikut:
    1. Tanda-tanda syok
    2. Pemeriksaan obstetric
      • Perhatikan kontraksi, letak, dan konsistensi uterus
      • Lakukan pemeriksaan dalam untuk menilai adanya: perdarahan, keutuhan plasenta, tali pusat, dan robekan di daerah vagina
    3. Pemeriksaan penunjang
      • Pemeriksaan darah rutin: terutama untuk menilai kadar Hb < 8 gr%.
      • Pemeriksaan golongan darah (tidak tersedia)
      • Pemeriksaan waktu perdarahan dan waktu pembekuan darah (untuk menyingkirkan penyebab gangguan pembekuan darah). (tidak tersedia)
  3. Petugas melakukan penegakan diagnosis berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik.
  4. Perdarahan post partum bukanlah suatu diagnosis, akan tetapi suatu kejadian yang harus dicari penyebabnya :
    • PPP karena atonia uteri
    • PPP karena robekan jalan lahir
    • PPP karena sisa plasenta
    • PPP akibat retensio plasenta
    • PPP akibat ruptura uteri
    • PPP akibat inversio uteri
    • Gangguan pembekuan darah

      No

      Gejala dan Tanda

      Kemungkinan Penyebab

      1

      ·Perdarahan segera setelah anak lahir

      ·Uterus tidak berkontraksi dan lembek

      Atonia uteri

      2

      ·      Perdarahan segera

      ·      Darah segar yang mengalir segera setelah bayi lahir

      Robekan jalan lahir

      3

      ·      Plasenta belum dilahirkan dalam 30 menit setelah kelahiran bayi

      Retensio plasenta

      4

      ·      Plasenta atau sebagian selaput tidak lengkap

      ·      Perdarahan dapat muncul 6-10 hari post partum disertai subinvolusi uterus

      Sisa plasenta

      5

      ·      Perdarahan segera

      ·      Nyeri perut yang hebat

      ·      Kontraksi yang hilang

      Ruptura uteri

      6

      ·      Fundus uteri tidak teraba pada palpasi abdomen

      ·      Limen vagina terisi massa

      ·      Nyeri ringan atau berat

      Inversio uteri

      7

      ·      Perdarahan tidak berhenti, encer, tidak terlihat gumpalan sederhana

      ·      Kegagalan terbentuknya gumpalan pada uji pembentukan darah sederhana

      ·      Terdapat faktor predisposisi : solusio plasenta kematian janin dalam uterus, eklampsia, emboli air ketuban

      Gangguan pembekuan darah

  5. Petugas melakukan tatalaksana:
    1. Penatalaksanaan Awal
      • Berikan oksigen.
      • Pasang infus intravena dengan kanul berukuran besar (16 atau 18) dan mulai pemberian cairan kristaloid (NaCl 0,9% atau Ringer Laktat atau Ringer Asetat) sesuai dengan kondisi ibu.
      • Lakukan pengawasan tekanan darah, nadi, dan pernapasan ibu.
      • Periksa kondisi abdomen: kontraksi uterus, nyeri tekan, parut luka, dan tinggi fundus uteri.
      • Periksa jalan lahir dan area perineum untuk melihat perdarahan dan laserasi (jika ada, misal: robekan serviks atau robekan vagina).
      • Periksa kelengkapan plasenta dan selaput ketuban.
      • Pasang kateter Folley untuk memantau volume urin dibandingkan dengan jumlah cairan yang masuk. Catatan: produksi urin normal 0.5-1 ml/kgBB/jam atau sekitar 30 ml/jam)
      • Jika kadar Hb< 8 g/dl rujuk ke layanan sekunder (dokter spesialis obgyn)
      • Jika fasilitas tersedia, ambil sampel darah dan lakukan pemeriksaan: kadar hemoglobin (pemeriksaan hematologi rutin) dan penggolongan ABO.
      • Tentukan penyebab dari perdarahannya (lihat tabel 14.11) dan lakukan tatalaksana spesifik sesuai penyebab
    2. Penatalaksanaan Lanjutan
      • Atonia uteri
        • Lakukan pemijatan uterus.
        • Pastikan plasenta lahir lengkap.
        • Berikan 20-40 unit Oksitosin dalam 1000 ml larutan NaCl 0,9%/ Ringer Laktat dengan kecepatan 60 tetes/menit dan 10 unit IM.
        • Lanjutkan infus oksitosin 20 unit dalam 1000 ml larutanNaCl 0,9%/Ringer Laktat dengan kecepatan 40 tetes/menit hingga perdarahan berhenti.
        • Bila tidak tersedia Oksitosin atau bila perdarahan tidak berhenti, berikan Ergometrin 0,2 mg IM atau IV (lambat), dapat diikuti pemberian 0,2 mg IM setelah 15 menit, dan pemberian 0,2 mg IM/IV (lambat) setiap 4 jam bila diperlukan. Jangan berikan lebih dari 5 dosis (1 mg).
        • Jika perdarahan berlanjut, berikan 1 g asam traneksamat IV (bolus selama 1 menit, dapat diulang setelah 30 menit).
        • Lakukan pasang kondom kateter atau kompresi bimanual internal selama 5 menit.
        • Siapkan rujukan ke fasilitas pelayanan kesehatan sekunder sebagai antisipasi bila perdarahan tidak berhenti
      • Robekan jalan lahir
        • Lakukan eksplorasi untuk mengidentifikasi sumber perdarahan.
        • Lakukan irigasi pada tempat luka dan bersihkan dengan antiseptik.
        • Hentikan sumber perdarahan dengan klem kemudian ikat dengan benang yang dapat diserap.
        • Lakukan penjahitan (sesuai SOP penjahitan perenium)
        • Bila perdarahan masih berlanjut, berikan 1 g asam traneksamat IV (bolus selama 1 menit, dapat diulang setelah 30 menit).
      • Robekan serviks
        • Paling sering terjadi pada bagian lateral bawah kiri dan kanan dari porsio
        • Siapkan rujukan ke fasilitas pelayanan kesehatan sekunder
      • Retensio plasenta
        • Berikan 20-40 unit oksitosin dalam 1000 ml larutanNaCl 0,9% atau Ringer Laktat dengan kecepatan 60 tetes/menit dan 10 unit IM. Lanjutkan infus oksitosin 20 unit dalam 1000 ml larutanNaCl 0,9% atau Ringer Laktat dengan kecepatan 40 tetes/menit hingga perdarahan berhenti.
        • Lakukan tarikan tali pusat terkendali.
        • Bila tarikan tali pusat terkendali tidak berhasil, lakukan plasenta manual secara hati-hati
        • Berikan antibiotika profilaksis dosis tunggal (Ampisilin 2 g IV DAN Metronidazol 500 mg IV).
        • Segera atasi atau rujuk ke fasilitas yang lebih lengkap bila terjadi komplikasi perdarahan hebat atau infeksi
      • Sisa plasenta
        • Berikan 20-40 unit oksitosin dalam 1000 ml larutan NaCl 0,9% atau Ringer Laktat dengan kecepatan 60 tetes/menit dan 10 unit IM. Lanjutkan infus Oksitosin 20 unit dalam 1000 ml larutan NaCl 0,9% atau Ringer Laktat dengan kecepatan 40m tetes/ menit hingga pendarahan berhenti.
        • Lakukan eksplorasi digital (bila serviks terbuka) dan keluarkan bekuan darah dan jaringan. Bila serviks hanya dapat dilalui oleh instrumen, lakukan evakuasi sisa plasenta dengan aspirasi vakum manual atau dilatasi dan kuretase.
        • Berikan antibiotika profilaksis dosis tunggal (ampisillin 2 g IV dan Metronidazol 500 mg).
        • Jika perdarahan berlanjut, tata laksana seperti kasus atonia uteri.
      • Inverio uteri
        • Siapkan rujukan ke fasilitas pelayanan kesehatan sekunder
      •  Gangguan pembekuan darah
        • Pada banyak kasus kehilangan darah yang akut, koagulopati dapat dicegah jika volume darah dipulihkan segera.
        • Tangani kemungkinan enyebab (solusio plasenta, eklampsia).
        • Siapkan rujukan ke fasilitas pelayanan kesehatan sekunder
  6. Petugas melakukan Konseling dan Edukasi pada pasien dan atau keluarganya :
    • Memberikan informasi akan keadaan ibu yang mengalami perdarahan pascasalin.
    • Memberikan informasi yang tepat kepada suami dan keluarga ibu terhadap tindakan yang akan di lakukan dalam menangani perdarahan pascasalin.
    • Memastikan dan membantu keluarga jika rujukan akan dilakukan.
  7. Petugas mendokumentasikan semua hasil anamnesis, pemeriksaan, diagnosa, terapi, rujukan yang telah dilakukan dalam rekam medis pasien
PERDARAHAN POST PARTUM
7. Diagram Alir -
8. Unit Terkait

Pelayanan Umum 

Rekaman Historis Perubahan
No Yang Diubah Isi Perubahan Tanggal Mulai Diberlakukan