PENYAKIT PARU OBSTRUKTIF KRONIS










Ramli Randan
SOP No Dokumen 47/SOP/GRC/III/2019
No Revisi 0
Tanggal Terbit 04 Maret 2019
Halaman 1/5
Klinik Pratama Rawat Jalan
Gracia
1. Pengertian

Penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) adalah penyakit kronik yang dapat dicegah dan diobati, dikarakteristikan dengan hambatan aliran udara yan persisten, progresif dan berhubungan dengan peningkatan respon inflamasi krosnis diparu terhadap partikel dan gas berbahaya.

Kode ICD X untuk PPOK adalah L44.9.

2. Tujuan

Sebagai acuan penerapan langkah-langkah untuk menegakkan diagnosis dan penatalaksanaan PPOK.

3. Kebijakan
  • Keputusan Kepala Klinik Gracia Nomor 98/SK/GRC/I/2023 tentang
    Kebijakan Pelayanan Klinis
4. Referensi

Keputusan Menteri Kesehatan RI No. HK.02.02/MENKES/514/2015 Tentang Panduan Praktis Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama

5. Prosedur
  1. Petugas melakukan anamnesa dan mengalinya berdasarkan:
    1. Keluhan:
      • Sesak nafas
      • Kadang-kadang disertai mengi
      • Batuk kering atau dengan dahak yang produktif
      • Rasa berat di dada
    2. Faktor resiko :
      • Genetika
      • Pajanan partikel :
        • Asap rokok
        • Debu kerja, organic dan inorganic
        • Polusi udara dalam rumah dari pemanasan atau biomassa rumah tangga dengan ventilasi yang buruk
        • Polusi udara bebas
      • Pertumbuhan dan perkembangan paru
      • Stress oksidatif
      • Jenis kelamin
      • Umur
      • Infeksi paru
      • Status social-ekonomi
      • Nutrisi
      •  Komorbilitas
    3. Penilaian severitas gejala:
      • Penilaian dapat dilakukan dengan kuesioner COPD Assesment Test (CAT) yang terdiri atas 8 pertanyaan untuk mengukur pengeruh PPOK terhadap status kesehatan pasien
  2. Petugas melakukkan pemerisaan fisik :
    1. Inspeksi :
      • sianosis sentral pada memberan mukosa mungkin ditemukan
      • abnormalitas dinding dada yang menunjukan hiperinflasi paru termasuk iga yang tampak horizontal, barriel chest (diameter antero-posterior iga transversal sebanding) adan abdomen yang menonjol keluar.
      • Hemidiagfragma mendatar
      • Laju respirasi istirahat meningkat labih dari 20 kali/menit dan pola nafas lebih dangkal.
      • Pursed-lips breathing ( mulut setengah terkatup mencucu), laju ekspirasi lebih lambat memungkinkan pengosongan paru yang lebih efisien.
      • Penggunaan otot bantu nafas adalah indikasi gangguan pernafasan.
      • Bila telah terjadi gagal jantung kanan terlihat denyut vena jugularis dileher dan edema tungkai.
    2. Palapasi dan Perkusi
      • Sering tidak ditemukan kelaianan pada PPOK
      • Irama jantung di apeks mungkin sulit ditemukan karena hiperinfasi paru
      • Hiperinfasi menyebabkan hati letak rendah dan mudah dialpasi
    3. Auskultasi
      • Pasien dengan PPOK sering mengalami penurunan suara nafas tapi tidak spesifik untuk PPOK
      • Mengi selama pernafasaan biasa menunjukan keterbatasan aliran udara, tetapi mengi yang hanya terdengar setelah ekspirasi paksa tidak spesifik untuk PPOK
      • Ronkhi basah kasar saat inspirasi dapat ditemukan
      • Bunyi jantung terdengar lebih keras diarea xypohoideus
  3. Petugas melakukan pemeriksaan penunjang yaitu uji alan selama 6 menit yang dimodifikasi dan Darah lengkap (bila tersedia)
  4. Petugas melakukan penegakan diagnosis berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik dan bila perlu pemeriksaan penunjang.

    Gejala

    Keterangan

    Sesak

    Progresif (sesak bertambah berat seiring berjalannya waktu).

    Bertambah berat dengan beraktifitas

    Persisten (menetap sepanjang hari)

    Pasien mengeluh “pelu usaha untuk bernafas”

    Berat suar bernafas, terengah-engah

    Batuk kronik

    Hilang timbul dan mungkin  tidak berdahak

    Batuk kronik berdahak

    Setiap batuk kronik berdahak dapat mengindikasikan PPO

    Riwayat terpajan factor resiko

    Asap rokok

    Debu

    Bahan kimia ditempat kerja

    Asap dapur

    Riwayat keluarga

     

  5. Petugas melakukan tatalaksana :
    1. PPOK stabil
      • Obat-obatan dengan tujuan mengurangi laju beratnya penyakit dan mempertahankan keadaan stabil
      • Bronkodilator dan kodilator tujuan mengurangi laju beratnya penyakit dan mempertahankan keadaan stabi
      • Bronkodilator dalam bentuk oral, kombinasi golongan ẞ2 agonis (salbutamol) dengan golongan xantin (aminophilin dan teofilin), masing-maing dalam dosis suboptimal, sesuai dnegan berat badan dan berat nya penyakit. Untuk itu dosis pemeliharaan aminophilin/teofilin 100-150 mg kombinasi dengan salbutamol 1 mg
      •  Kortikosteroid
      • Ekspektoran dengan obat batuk hitam (OBH)
      • Mukolitik (ambroxol) dapat diberikan dbilla sputum mukoid
    2. PPOK Eksaserbasi
      •  Oksigen
      • Bronkodilator:
        • Pada kondisi eksaserbasi akut dosis dan atau frekuensi bronkodilator kerja pendek ditingkatkan dan dikombinasikan dengan antikolinergik. Bronkodilator yang disarankan adalah dalam sediaan inhalasi. Jika tidak tersedia obat dapat diberikan seara injeksi, subkutan digunakan dengan hati-hati.

        • Adrenalin 0,3mg subkutan, digunakan dengan hati-hati

        • Aminophilin bolus 5mg/kgBB (dengan pengenceran) harus perlahan (selama 10 menit) untuk menghindari efek samping, dilanjutkan perdrip 0,5 – 0,8 mg/kgBB/jam

      • Kortikosteroid:
        • Diberikan dalam dosisi 30mg/hari diberikan maksimal selama 2 minggu. Pemberian selama 2 minggu tidak perlu tapering off

      • Antibiotic yang tersedia di Klinik 
      • Pada kondisi telah terjadi kor pulmonale, dapat diberikan diuretic dan perlu berhati-hati dalam pemberian cairan
  6. Petugas memberikan konseling dan edukasi kepada pasien dan keluarganya yaitu:
    1. Edukasi ditujuan untuk mencegah penyakit bertambah berat dengan cara menggunakan obat-obatan yang tersedia dengan tepat, menyesuiakan keterbatasan aktifitas serta menvegah eksaserbasi
    2. Pengurangan pajanan faktor resiko
    3. Berhenti merokok
    4. Keseimbangan nutrisi anatara protein lemak dan karbohidrat, dapat diberikan dalam porsi kecil tetapi sering
    5. Rehabilitasi
    6. Latihan bernafas dengan pursed lip breathing
    7. Latihan ekspektorasi
    8. Latihan otot pernafasan dan ekstremitas
    9. Terapi oksigen jangka panjang
  7. Petugas memberikan rujukan jika:
    1. Untuk memastikan diagnose dan menentukan derajat PPOK
    2. PPOK eksaserbasi
    3. Rujukan penatalaksanaan jangka panjang
  8. Petugas memberikan resep kepada pasien untuk diserahkan ke unit farmasi.
  9. Petugas mendokumentasikan semua hasil anamnesis, pemeriksaan, diagnosa, terapi, rujukan yang telah dilakukan dalam rekam medis pasien

 

PENYAKIT PARU OBSTRUKTIF KRONIS
6. Diagram Alir -
7. Unit Terkait

Pelayanan Umum 

Rekaman Historis Perubahan
No Yang Diubah Isi Perubahan Tanggal Mulai Diberlakukan