KERACUNAN MAKANAN










Ramli Randan
SOP No Dokumen 177/SOP/GRC/III/2019
No Revisi 0
Tanggal Terbit 04 Maret 2019
Halaman 1/2
Klinik Pratama Rawat Jalan
Gracia
1. Pengertian

Keracunan makanan merupakan suatu kondisi gangguan pencernaan yang disebabkan oleh konsumsi makanan atau air yang terkontaminasi dengan zat patogen dan atau bahan kimia, misalnya Norovirus, Salmonella, Clostridium perfringens, Campylobacter, dan Staphylococcus aureus.

Kode ICD X untuk keracunan makanan adalah T62.

2. Tujuan

Sebagai acuan penerapan langkah-langkah untuk menegakkan diagnosis dan penatalaksanaan keracunan makanan

3. Kebijakan
  • Keputusan Kepala Klinik Gracia Nomor 98/SK/GRC/I/2023 tentang
    Kebijakan Pelayanan Klinis
4. Referensi

Keputusan Menteri Kesehatan RI No. HK.02.02/MENKES/514/2015 Tentang Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama

5. Prosedur
  1. Petugas melakukan anamnesis dan menggalinya, terkait dengan:
    1. Keluhan:
      • Diare akut (pada keracunan makanan berlangsung < 2 minggu)
      • Darah atau lendir pada tinja (invasi mukosa usus atau kolon)
      • Nyeri perut
      • Nyeri kram otot perut (menunjukkan hilangnya elektrolit yang mendasari, seperti pada kolera yang berat)
      • Kembung
    2. Faktor Resiko:
      • Riwayat makan/minum di tempat yang tidak higienis
      • Konsumsi daging /unggas yang kurang matang dapat dicurigai untuk Salmonella spp, Campylobacter spp, toksin Shiga E coli, dan Clostridium perfringens.
      • Konsumsi makanan laut mentah dapat dicurigai untuk Norwalk-like virus,Vibrio spp, atau hepatitis A.
  2. Petugas melakukan pemeriksaan fisik secara. Pemeriksaan fisik harus difokuskan untuk menilai keparahan dehidrasi.
    • Diare dengan dehidrasi, dengan tanda-tanda tekanan darah turun, nadi cepat, mulut kering, penurunan keringat, dan penurunan output urin.
    • Nyeri tekan perut, bising usus meningkat atau melemah.
  3. Petugas melakukan diagnosis berdasarkan anamnesis, dan pemeriksaan fisik
  1. Petugas Tatalaksana sesuai penyakit dan tingkat keparahan.
    • Pada kasus gastroenteritis akut adalah self-limiting, pengobatan khusus tidak diperlukan. Dari beberapa studi didapatkan bahwa hanya 10% kasus membutuhkan terapi antibiotik.
    • Rehidrasi cairan yang cukup dan suplemen elektrolit.
    • Cairan rehidrasi oral (oralit) atau
    • Larutan intravena (misalnya, larutan natrium klorida isotonik, larutan Ringer Laktat).
    • Obat absorben : Norit (karbon aktif) 4 – 6 tablet sehari, Aluminium hidroksida Syr 3 x 1 C.
    • Atapulgit : Antidiare / diaform / Diatabs 2 tablet setiap diare maximal 12 tablet / hari (Stop bila sudah tidak diare) , Loperamid 2 mg (Imodium) 2 tablet pemberian pertama setelah diare, dilanjutkan  1 tablet tiap diare, maximal 8 tablet / hari   untuk diare masif > 10x/hari
    • Jika gejalanya menetap setelah 3-4 hari, etiologi spesifik harus ditentukan dengan melakukan kultur tinja. Untuk itu harus segera dirujuk.
  2. Petugas melakukan rujukan jika ditemukan:
    • Gejala keracunan tidak berhenti setelah 3 hari ditangani dengan adekuat
    • Pasien mengalami perburukan
  3. Petugas memberikan resep kepada pasien untuk diserahkan ke unit farmasi.
  4. Petugas mendokumentasikan semua hasil anamnesis, pemeriksaan, diagnosa, terapi, rujukan yang telah dilakukan dalam rekam medis pasien 
KERACUNAN MAKANAN
6. Diagram Alir -
7. Unit Terkait

Pelayanan Umum 

Rekaman Historis Perubahan
No Yang Diubah Isi Perubahan Tanggal Mulai Diberlakukan